Kamis, 12 Januari 2012

Morfologi Kata yang Mirip dengan Bahasa Indonesia Bahasa Banjar


A.   Pendahulauan
Sultan Takdir Alisyahbana mengakui bahwa ihwal imbuhan dalam bahasa Indonesia merupakan bagian telaah yang rumit. Hal yang sama juga dijumpai pada bahasa Banjar (BB). Meski sudah ada beberapa penelitian dan terbitan yang mencakupi deskripsi afiksasi, tetapi belum cukup memadai.

Bahasa Banjar dipergunakan oleh Suku Banjar yang mendiami hampir seluruh Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan.Bahkan tersebaar secara luas sampai ke daerah – daerah pesisir Kalimantan Tengah , Kalimantan Timur, Sumatera seperti di Muara Tungkal, Sapat dahn Tembilahan juga di daerah – daerah Negara Malaysia. Bahasa Banjar ini dibawa oleh perantau orang – orang Banjar.

B.   Pengertian bahasa banjar
Bahasa Banjar adalah sebuah bahasa Austronesia yang dipertuturkan oleh suku Banjar di Kalimantan Selatan, Indonesia, sebagai bahasa ibu.
Bahasa Banjar termasuk dalam daftar bahasa dominan di Indonesia. Bahasa Banjar merupakan anak cabang bahasa yang berkembang dari Bahasa Melayu. Asal bahasa ini berada di provinsi Kalimantan Selatan yang terbagi atas Banjar Kandangan, Amuntai, Alabiu, Kalua, Alai, dan lain-lain. Bahasa Banjar dihipotesiskan sebagai bahasa Melayik, seperti halnya bahasa Minangkabau, bahasa Betawi, bahasa Iban, dan lain-lain.
Selain di Kalimantan Selatan, Bahasa Banjar yang semula sebagai bahasa suku bangsa juga menjadi lingua franca di daerah lainnya, yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur serta di daerah Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, sebagai bahasa penghubung antar suku. Di Kalimantan Tengah, tingkat pemertahanan bahasa Banjar cukup tinggi tidak sekedar bertahan di komunitasnya sendiri, bahkan menggeser (shifting) bahasa-bahasa orang Dayak. Bahasa Banjar juga masih digunakan pada sebagian pemukiman suku Banjar di Malaysia seperti di Kampung Parit Abas, Mukim Kuala Kurau, Daerah Kerian, Negeri Perak Darul Ridzuan.
Bahasa Banjar banyak dipengaruhi oleh bahasa Melayu, Jawa dan bahasa-bahasa Dayak. Bahasa Banjar mempunyai hubungan dengan bahasa Kedayan (Brunei) yang terpisahkan selama 400 tahun dan bahasa Banjar sering pula disebut Bahasa Melayu Banjar. Dalam perkembangannya, bahasa Banjar ditengarai mengalami kontaminasi dari intervensi bahasa Indonesia dan bahasa asing.
 Bahasa Banjar berada dalam kategori cukup aman dari kepunahan karena masih digunakan sebagai bahasa sehari-hari oleh masyarakat Banjar maupun oleh pendatang.. Walaupun terjadi penurunan penggunaan bahasa Banjar namun laju penurunan tersebut tidak sangat kentara. Saat ini, Bahasa Banjar sudah mulai diajarkan di sekolah-sekolah di Kalimantan Selatan sebagai muatan lokal. Bahasa Banjar juga memiliki sejumlah peribahasa.
C.   DIALEK
Dengan pengaruh dua bahasa tersebut maka kalau ditinjau dari segi fonologi maupun morfologi, maka bahasa Banjar digolongkan pada dua karakter lingua, yaitu Banjar hulu dan banjar kuala.
1. Dialek Bahasa Banjar Kuala, yang umumnya dipakai oleh penduduk sekitar Banjarmasin, Martapura dan Pelaihari.

2. Dialek Bahasa Banjar Hulu, seperti di daerah – daerah Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan dan Tabalong.
Perbedaan ini dapat dilihat dari :

1. Perbedaan kosa kata seperti :

Banjar Kuala ................... . Banjar Hulu
kawa .................................. hingkat = dapat
mau ................................... hakun = mau, ingin
gasan ............................... . hagan = untuk, buat
jalan .................................. lalah, jaap = jalan
pingkut .............................. cakut = pegang
gusang ............................. . hangit = hangus
pangasit ............................ pamalar = kikir
timpas ............................... tungkih = bacok
unda .................................. aku = saya
nyawa ............................... ikam = kamu


2. Perbedaan pengucapan fonem, seperti :

Banjar kuala .................. Banjar Hulu
gemet ............................. gimit, gamat = perlahan, pelan
ember ............................. imbir = ember
longor .............................. lungur (sulah ) = botak
cocok ............................... cucuk = sesuai
kawan .............................. kawal = teman
kenceng ........................... kincing = periuk
hancap ............................. ancap = cepat
sete .................................. sati = sate
nangapa .......................... nangaa = kenapa,mengapa
siapa ............................. siaa = siapa
barapa ........................... baraa = berapa
Morfologi bahasa banjar hulu banyak sekali menggunakan kosa kata arkais yang sering digunakan oleh masyarakat adat etnik bukit, sedangkan Banjar kuala banyak menggunakan kata etnik melayu.
Ciri lain pengguna bahasa Banjar hulu adalah masyarakat yang menghuni dataran sedang dan perbukitan dan daerah perladangan, dengan dialektis agak kaku, pendek-pendek, keras dan cepat.
Sedangkan bahasa Banjar kuala adalah masyarakat yang menghuni tepian sungai, laut, muara rantauan dan pendukuhan dengan dialektis mengalun, meliuk-meliuk, tidak keras dan tidak cepat.
Oleh karena itu perbedaannya tidak terlalu menyolok, hanya mungkin pada pengunaan beberapa kosa kata saja, maka antara kedua wilayah karakter bahasa ini tidak ada kesulitan dalam berkomunikasi maupun dalam percakapan.
Ditambahkannya dalam perjalanan kehidupan Bangsa Banjar tempo dulu maka peranan bahasa merupakan unsur paling utama dalam hubungan berkehidupan dengan etnis dan bangsa lainnya.
Bahasa yang digunakan dinamakan bahasa Banjar yang terdiri dari campuran bahasa Dayak dan Melayu, sehingga bahasa Banjar menjadi bahasa pergaulan (lingua franca) bagi penutur puluhan bahasa daerah di wilayah Kalsel, Kalteng, Kaltim, bahkan beberapa daerah di Brunei Darusalam dan negara bagian Malaysia di Utaran Pulau Kalimantan.
Para linguis (ahli bahasa) dalam diakronis (kesejarahan bahasa) menyatakan bahwa bahasa Banjar termasuk kedalam anggota kerabat rumpun bahasa Austronesia Barat di wilayah gugusan kepulauan di selatan lautan Fasifik) yang dihipotesiskan berbeda dengan bahasa yang lainnya yang terdapat di wilayah tersebut.
Dalam kedudukannya bahasa Banjar diketahui sangat terpengaruh besar di daratan Borneo, oleh karena itu bahasa Banjar memiliki beberapa fungsi, antara lain lambang kebangsaan daerah, lambang identitas masyarakat Banjar, media penghubung perkacapan dalam keluarga, media berkomunikasi dengan berbagai masyarakat yang ada di Kalsel, Kalteng,dan Kaltim.
Di Kalsel, pengguna bahasa banjar hampir 99 persen, dengan berbagai sub dialek dan kosa kata arkais dari daerah tertentu dipropinsi ini, disamping itu ada pula beberapa masyarakat pendatang yang tinggal dan menetap di daerah ini dengan cepat tertular tuturannya kedalam bahasa banjar.
Walaupun para penutur bahasa banjar sebagai ekabahasawan dengan keanekaragaman kosa kata, pada umumnya mampu juga dengan mudah menuturkan bahasa Indonesia karena kebetulan struktur dan kosa kata yang digunakan memiliki banyak persamaan.
D.   KOSA KATA
Kosa kata dialek Banjar Hulu tidak semuanya ada pada semua subdialek bahasa Banjar, tetapi jelas tidak akan ditemukan dalam dialek Banjar Kuala, ataupun sebaliknya kosa kata seperti unda (aku), dongkah (sobek besar), atung (taat) dan sebagainya dalam dialek Banjar Kuala tidak akan ditemukan pada dialek Banjar Hulu. Dilihat dari kosa kata, baik dalam hal jumlah maupun variasi subdialeknya, tampaklah dialek Banjar Hulu jauh lebih banyak dan kompleks.
 Misalnya antara subdialek satu dengan subdialek lainnya seperti Alabio, Kalua, Amuntai dan lain-lain banyak berbeda kosa katanya, sehingga dapat terjadi kosa kata yang dipergunakan pada daerah satu tidak jarang atau kurang biasa dipergunakan pada daerah lainnya. Tetapi dibandingkan dengan dialek Banjar Kuala, subdialek Banjar Hulu ini lebih berdekatan satu sama lain. Karena itu di dalam Kamus Banjar–Indonesia sering hanya dibedakan antara Banjar Kuala (BK) dan Banjar Hulu (BH). Dalam perkembangannya pergaulan dan pembauran antara kedua pemakai dialek tersebut kian intensif.

E.   KESIMPULAN
Bahasa banjar terbagi menjadi dua dialek, yaitu dialek Bahasa Banjar Kuala dan Bahasa Banjar Hulu. Bahasa Banjar juga tidak terlalu sulit, asalkan kita juga mengerti Bahasa Indonesia. Karena perbedaan antara Bahasa keduanya tidaklah sulit untuk dimengerti.
 Bahasa Banjar memiliki beberapa fungsi, antara lain lambang kebangsaan daerah, lambang identitas masyarakat Banjar, media penghubung perkacapan dalam keluarga, media berkomunikasi dengan berbagai masyarakat yang ada di Kalsel, Kalteng,dan Kaltim.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar